x Klub Sastra Bentang: ReviewBuku: The Greatest Love

Thursday, March 02, 2006

ReviewBuku: The Greatest Love



Judul asli : The Great Love Stories
Penulis : Charles Dickens, Fyodor Dostoyevsky, Guy de Maupassant dll
Penerjemah : Ibnu Setiawan
Penyunting : Suhindrati A.Shinta
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Tahun : 2006, Januari, cetakan 1
Tebal : 260 hlm

Sederet nama besar dalam jagat sastra dunia yang terpampang sebagai penulis di antologi cerpen cinta ini diharapkan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembacanya. Siapa yang tak kenal Charles Dickens, sastrawan Inggris yang masyhur dengan novel Great Expectation? Atau Fyodor Dostoyevsky, penulis Rusia dengan novel kondangnya Crime and Punishment? Masih ada lagi nama Guy de Maupassant, novelis Prancis yang melahirkan Une Vie serta beberapa nama beken lain, seperti H.G.Wells, Anthony Trollope, Anatole France, Katherine Mansfield, Marie Corelli, Rafael Sabatini, dan Charles Kingsley.

Nama-nama di atas datang dari masa silam; hidup antara tahun 1800-an sampai 1900-an. Para penulis besar itu memang sudah tidak ada lagi, namun karya mereka tetap abadi dan kita yang lahir jauh setelah kematian mereka, masih terus membaca karya-karya klasik tersebut hingga hari ini. Kelanggengannya tentu karena kualitas karya tersebut telah teruji dari zaman ke zaman.

Maka, klasik adalah kesan yang akan kita rasakan dalam membaca sebelas cerpen di buku ini. Dibuka oleh cerpen karya Anatole France (1844 - 1924) berjudul Pemain Sulap Bunda Maria yang disusul kemudian secara berurut : Sebuah Adegan Cinta (Anthony Trollope), Cinta Nathaniel Pipkin,Sebuah Kisah Cinta Sejati (Charles Dickens), Agnes (Charles Dickens), Suami yang Sempurna - dan Istri yang Sempurna (Charles Kingsley), Seorang Pahlawan Kecil (Fyodor Dostoyevsky), Si Tukang Reparasi Kursi (Guy de Maupassant), Jane yang Patah Hati (H.G.Wells), Tuan dan Nyonya Merpati (Katherine Mansfield), Kebisuan Sang Maharaja (Marie Corelli), dan Berkat Kebiasaan Kuno (Rafael Sabatini).

Kesebelas cerpen ini, membawa kita ke suasana Eropa akhir abad sembilan belas di mana akan kita temukan wanita-wanita bangsawan berkereta kuda dan para lelakinya menunggang kuda bagai para putri dan ksatria. Tak semuanya memang, berupa kisah cinta yang mulus dan berakhir bahagia, akan tetapi ia tetaplah sebuah cerita yang indah untuk kita nikmati. Beragam kisah cinta dari rakyat jelata hingga para Lady dan Duke.

Cerpen paling panjang (cerpen kok panjang ya?) adalah Seorang Pahlawan Kecil karya Dostoyevsky (1821 - 1881). Ceritanya ihwal seorang anak lelaki berusia sebelas tahun jatuh cinta kepada Mme M, seorang wanita dewasa dengan mata sayu, senyum lembut, serta wajah seindah Madonna dari Italia pada sebuah pesta liburan musim panas di desa kecil dekat Moskwa. Namun, bocah lelaki ini harus puas dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan, karena Mme M diam-diam - tentu saja di belakang punggung suaminya - menyimpan cinta untuk seorang pria muda bernama N. Cerpen ini mengambil 60 halaman (hlm 81 -140) dari tebal buku yang 260 halaman. Lumayan panjang untuk sebuah cerpen.

Cerita terpanjang berikutnya (dan yang paling saya suka), yaitu Kebisuan Sang Maharaja karya Marie Corelli (1855-1924), penulis Inggris bernama asli Mary Mackay yang menulis novel Thelma (1897) dan The Soul of Lilith (1892). Inilah satu-satunya cerpen di buku ini yang ber-setting non Eropa, tepatnya di India. Kisah cinta seorang bangsawan India (Maharaja) kepada wanita Inggris yang berakhir tragis. Cinta terlarang; oleh banyak hal : perbedaan bangsa, agama, status (Sang Maharaja sebagai pribumi sebuah negeri jajahan-India- dan si wanita wakil dari negeri penguasa, Inggris), dan terutama karena wanita ini telah bersuami.

Lantas, ada pula debat menarik tentang cinta sejati di cerpen Si Tukang Reparasi Kursi (Maupassant). Seperti apakah cinta sejati itu? Apakah seseorang hanya mengalaminya sekali saja atau ia, cinta itu, seperti penyakit, bisa menyerang orang yang sama berkali-kali?

Para wanita - yang pendapatnya lebih didasarkan pada fantasi-fantasi puitis daripada pengamatan - berpegang teguh bahwa cinta sejati hanya dialami oleh manusia sekali saja. Cinta sejati laksana petir yang datang menyerang sekali dan memorak-porandakan hati.

Sebaliknya, para makhluk yang sering disebut berasal dari Mars (baca : pria), berpendapat bahwa cinta sejati bisa datang berkali-kali pada orang (lelaki) yang sama. Cinta sejati itu, bagi kaum Adam, sama dengan kekasih yang memabukkan; seorang pria yang mabuk akan minum lagi dan seorang pria yang pernah mencintai akan mencintai lagi (huh, dasar!)

Pada Jane yang Patah Hati (H.G.Wells), kita akan dapati kisah cinta seorang gadis pembantu rumah tangga, Jane, dengan pemuda pelayan toko bernama William dalam adonan komedi segar; meninggalkan pesan riang : tak perlu menangisi kekasih yang kabur dengan gadis lain. Percayalah, tidak ada kesedihan yang tak bisa disembuhkan.

Barangkali cinta, seperti juga musik, bermakna universal, menembus batasan negara, bangsa, agama, status sosial serta ruang dan waktu. Cinta ada bersamaan dengan penciptaan alam semesta. Sebab, bukankah Tuhan mencipta dengan cinta? Bukankah Tuhan cinta itu sendiri? Ke dalam setiap ruh kehidupan, Tuhan meniupkan cinta-Nya. Jika kemudian ada rasa benci, itu adalah cinta yang dilukai. Jika lalu ada cemburu, itu mungkin cinta yang tersaingi.

Endah Sulwesi 1/3

ps: dikopipeskan dari perca dengan seijin penulisnya.